Senin, 19 Juli 2010

Mengenal Empat Kelompok Orang Asal Indonesia Di Belanda


Mr. Paul Salam Somohardjo, salah satu keturunan jawa di Suriname

(diambil dari Blogspot Gemaralura)

Di Negeri Belanda hidup puluhan etnis, yang disebut ‘etnisminderheden’ atau allechtone (orang asing) dari berbagai bangsa didunia, empat diantaranya kelompok keturunan bangsa Indonesia. Penampilan sama orang di Indonesia, tetapi mereka menganggap diri satu dengan lainnya berbeda.


Dari empat kelompok, masing-masing, kelompok Indo, bahasa Belanda disebutan Indisch (turunan Indonesia-Belanda) adalh hasil perkawinan campuran, kelompok Ambon, kelompok Jawa Suriname dan kelompok orang-orang Indonesia merdeka (maksudnya orang Indonesia yang berada di Belanda dengan kemauan dan usaha sendiri).


Dalam hidup sehari-hari, mereka hidup berdampingan bagaikan olie bercampur air. Setiap kelompok mengakui kelompoknya tersindiri dari yang lainnya.

Kelompok Indo, ini merupakan kelompok tertua sejarahnya di Negeri Belanda, sudah beberapa generasi hadir dinegeri kincir angin. Melalui orang tua dan leluhurnya, mereka pindah ke Negeri Belanda. Indo ini dikenal sejak terjadinya perkawinan antara tuan dan pengasuh rumah tangga sejak masa kolonial, di Nederlands Indiƫ pada jaman tempo doeloe.

Tetapi kelompok ini mencapai puncaknya berpindah ke Belanda pada zaman pergantian kekuasaan di Indonesia, dari orde-lama ke orde-baru, pada akhir tahun 1965 – 1966, kemudian mereka berdiam negeri Belanda, mereka ini menganggap diri selaku orang Belanda, walaupun orang Belanda sendiri menganggap orang asing, demikian juga halnya orang di Indonesia beranggapan sama kepada mereka. Hingga terjadi istilah bangsa kehilang tanah air dan orang-orang yang asing dinegeri leluhurnya.

Kelompok Ambon, kelompok ini datang ke negeri Belanda melalui kebijaksanaan Pemerintah Belanda pada awal tahun limapuluhan. Pemerintah Belanda merasa bertanggung jawab atas keselamatan bekas serdadunya, yang bergabung dalam KNIL.

Bekas tetara KNIL ini diangkut oleh pemerintah Belanda dari Indonesia setelah Tentara Republik mengoperalih kekuasaan dibawah presiden Sukarno. Bekas tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) ini, diangkut dengan kapal laut dari Indonesia ke Nederland pada tahun 1951. Jumlah dari kelompok Ambon asal KNIL ini membentuk kelompok yang terbesar dari empat kelompok dimaksud. Dari hasil kawin mawin mereka dengan berbagai ras di Nederland, sampai ke generisi ke tiga sekarang mungkin jumlahnya sudah ratusan ribu jiwa. Mereka ini tersebar ke berbagai penjuru Nederland mulai dari Selatan Provinsi Maastricht sampai ke utara provinsi Groningen dan Frisland.

Kelompok Jawa Suriname, kelompok ini, berliku-liku jalannya sejarah yang dilalui. Leluhur mereka berangkat dari pulau Jawa pada jaman kolonial menuju ke Suriname. Asal mula kelompok ini, adalah tenaga pekerja dari Jawa pada tahun 1890 dibawa ke Suriname, selaku tenaga kerja kontrakan yang akan dipekerjakan diperkebunan tebu. Dan menurut mereka, leluhurnya dijanji oleh pemerintah kelonial, setelah selesai kontrak mereka, mereka akan dikembalikan ke pulau jawa selaku negeri asalnya.

Tetapi perjalanan masa terus beralalu, janji tetap janji, apa yang dijanjikan kepada leluhur mereka tidak pernah ditepati, sihingga menetap di Suriname dan membentuk satu kelompok dari penduduk negara Suriname; sudah menetap di suriname sampai Suriname merdeka dan membentuk satu komunistas Jawa - Suriname, kemudian dengan suka rela, selaku bangsa merdeka datang ke negeri Belanda. Jawa Suriname ini, tetap merasa orang Jawa, tetapi tidak merasa orang Indonesia.

Kelompok orang Indonesia merdeka, dimaksudkan penulis disini adalah bangsa Indonesia yang setelah indonesia merdeka, tidak ada hubungan dengan sejarah masa lalu, mereka berada di negeri Belanda. Mereka datang dengan kemauan dan usaha sendiri, tidak terbawa oleh sejarah kepindahan mereka. Mereka ini tidak merasa punya kesamaan dengan kelompok lain, yang telah disebutkan diatas. Kelompok keempat ini, tidak pernah merasa ada kesamaan sejarah dengan tiga kelompok lainnya. Demikianpun turunan mereka, tetap mengetahui, mereka berada di Belanda dengan keinginan orang tuanya datang ke Belanda dengan berbagai alasan.

Adakah perbedaan penampilan dari empat kelompok dimaksud diatas?

Pengalaman penulis yang sudah lebih sepermpat abad bergaul dari dekat dari empat kelompok disebutkan ini, tidak ada yang menonjol, umumnya sama raut dan penampilan wajah bangsa Indonesia yang ada ditanah air, berkulit sawo matang pada dasarnya. Tetapi setelah perjalanan masa berada di negeri bermusim empat dan bersuhu sejuk, hanya tiga atau empat bulan terkena mata hari panas, kulit mereka sudah agak mengalami perubahan, sedikit, agak putih telur. Kecuali yang berdarah campuran memang lebih keputih-putihan dari yang lainnya.



Perbedaan kedalam dapat kita ketahui, kalau mencoba berbincang dengan, diantara mereka. Misalnya ditanya dalam bahasa Indonesia. Dari Indonesia?

Tidak ada jawaban. Tetapi pertanyaan kemudian dirubah dalam bahasa Belanda.
“Waar komt U vandaan?” baru didapatkan jawaban dalam bahasa Belanda, dan kadang terdengar pula kementar dilentarkan mereka, menceritakan siapa orang nya, dari kelompok mana asal mereka.

Kami orang Maluku, orang tua kami dari Ambon dan kementar selanjutnya. Kalau mereka keturunan dari bekas tentara KNIL.

Kami orang Indo, kami turunan Belanda, nenek perempuan dari ...... mereka kadang menyebut kota asal neneknya, tetapi lebih banyak tidak tahu lagi dari mana asal nenek perempuannya.

Kami orang Jawa, datang dari Suriname dan selanjutnya. Nenek-moyang kami dibawa ke Suriname oleh Belanda. Kami masih punya pamili di Jawa, tetapi tidak tahu persinya, dimana.Tetapi lain halnya, bila bertemu dengan kelompok ke empat, orang indonesia merdeka, terjadilah percakapan, selagi ada kesempatan untuk berbincang-bincang.


Bagaimana keadaan hidup sehari-hari dari empat kelompok ini?
Dari empat kelompok ini, tidak ada orang turunan Indonesia yang disebutkan diatas tampil kemuka selaku pengusaha nasional di Belanda, setahu penulis. Dalam usaha-usaha kecil setingkat perusahaan pertokoan atau berjual-jualan kolenton, sebagai mana di Indonesia, tidak ada yang dapat diandalkan, satu dua di kota besar menjadi pemilik restoran, tatapi tingkatannya begitu-begi saja. Pada umumnya turunan Indonesia yang ada di Belanda, hidup selaku pekerja diberbagai perusahaan swasta atau pemerintah.


Dasar penghidupan mereka selaku orang digaji, bukan menggaji.
Turunan bangsa indonesia di Belanda, bila dibandingkan dengan bangsa lain, yang dikenal dengan nama “bangsa emigrant” dari Turki, Marokko dan lain bangsa. Bangsa Indonesia mati suri dan tidak kompak satu dengan lainnya. Dan tidak mempunyai persatuan yang kokoh, pabila dibanding dengan komunitas lain. Dapat dikatakan kurang inisiatief, tidak ambisius dan tidak berani mengambil resiko tampil selaku pengusaha bila dibanding dengan bangsa lainnya.

Di bidang politik, baik lokal atau nasional kelompok Maluku, sudah beberapa orang yang pernah duduk selaku anggota parlemen (Tweede kamar lid) dan politikus lokal (Gemeeenteraad), tetapi skalanya tidak berarti bila dibanding dengan kemunitas bangsa Turki, Marokko, Iran dan lain-lain bangsa*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar